Cikal bakal berdirinya sebuah lembaga pendidikan
keagamaan yang berjarak ± 500 m ke arah timur dari Masjid Agung Sunan Ampel
tepatnya di Jl. Sencaki 64 Surabaya yang kemudian dikenal dengan nama Yayasan
Pondok Pesantren Nurul Huda dan telah eksis sampai sekarang selama ± 20 tahun,
berawal dari berdirinya Mushalla (langgar wakaf) Nurul Huda yang dibangun
secara swadaya masyarakat pada tahun ± 1955. Perjuangan panjang tersebut tidak terlepas dari
seorang sosok tenang penuh wibawa yang menjadi panutan masyarakat sekitarnya
yaitu K. H. Ridlwan Baidlowi yang sebelum wafat, beliau adalah seorang imam
rawatib di Mushalla Nurul Huda Dari beberapa sumber yang berasal dari tokoh-tokoh
masyarakat sekitar seperti penuturan ketua takmir mushalla Nurul Huda Bapak H.
Huzaini yang populer dipanggil H. Kasim ia menjelaskan bahwa daerah asal K. H.
Ridlwan Baidlowi adalah dari Tanggulangin Sidoarjo Jawa Timur. Ada satu hal
yang tidak dapat dilupakan dari jasa-jasa beliau adalah tekad dakwahnya yang
sangat kokoh guna menyebarkan nilai Ukhuwah Islamiyah dan indahnya Islam pada
masyarakat Sencaki dan sekitarnya, yang pada saat itu daerah tersebut dikenal sebagai basis hitam tempat bersarangnya pencuri, pencopet, penyabung ayam
dan identitas-identitas lain yang negatif dan arogan walaupun diantara mereka
juga masih banyak orang-orang yang taat beribadah dan berakhlak mulia. Beliau dikenal keras dan tegas terhadap segala hal
yang bersifat prinsip terhadap nilai-nilai religi dan sangat dikenal luwes dan
familiar dalam hubungan sosial kemasyarakatan. Selama puluhan tahun hingga
wafatnya beliau pada tahun 1971, beliau
telah banyak mengabdikan dirinya untuk kemaslahatan dan kabaikan ummat padahal
secara garis nasabnya beliau tidak ada hubungan apapun baik anak maupun
persaudaraan dengan tokoh-tokoh masyarakat sekitar. Akan tetapi, setelah beliau
wafat yang terhitung sampai tahun 1993 tak satupun orang yang siap mengganti
posisinya sebagai singel fathers and top
leaders (seorang bapak dan panutan), yang pada akhirnya beberapa tokoh
masyarakat sekitar mushalla, bermusyawarah untuk mengaktifkan dan melanjutkan
kembali perjuangan K. H. Ridlwan Baidhowi tersebut yang kemudian mendatangi
seseorang yang menjadi warga pendatang di lokasi terebut, alumni dari Jami’atul
Imam Muhammad ibn Saud Riyadh – Saudi Arabiah yaitu K. H. Abdurrahman Navis,
Lc, yang kemudian diberikan amanah untuk menjadi Pengasuh sekaligus Ketua
Yayasan Pondok Pesantren Nurul Huda Surabaya hinggasekarang. Setelah beliau memegang amanah yang sangat berat ini,
beliau mulai merintis dan mengembangkan langgar wakaf ini yang diawalidengan pemugaran dan renovasi total sebuah bangunan yang asalnya adalah tempat
tinggal imam rawatib saat itu menjadi bangunan permanen Yayasan Pondok
Pesantren Putra berlantai dua. Sebagai upaya untuk menyukseskan rencana
besarnya itu, beliau memantapkan barisan bersama Ust. Drs. H. Abdul Hajji
Mukhtar yang kemudian menjadi Sekretaris Yayasan Pondok Pesantren dan Bapak Ali
Mustaqim menjadi Wakil Sekretaris serta Ust. H. Hamidin Lumaris Al-Hafidz
sebagai Bendahara Yayasan Pondok Pesantren.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Prestasi Emas Pencak Silat: SMP YPP Nurul Huda Berjaya di Kejuaraan KONI Kota Surabaya 2025
Prestasi Gemilang di Kejuaraan Pencak Silat KONI Surabaya 2025 Prestasi membanggakan kembali diraih oleh siswa-siswi SMP YPP Nurul Huda Sura...
-
Prestasi Gemilang di Kejuaraan Pencak Silat KONI Surabaya 2025 Prestasi membanggakan kembali diraih oleh siswa-siswi SMP YPP Nurul Huda Sura...
-
Cikal bakal berdirinya sebuah lembaga pendidikan keagamaan yang berjarak ± 500 m ke arah timur dari Masjid Agung Sunan Ampel tepatnya di Jl....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar