Rabu, 10 Desember 2025

SEJARAH BERDIRINYA YAYASAN PONDOK PESANTREN NURUL HUDA

Cikal bakal berdirinya sebuah lembaga pendidikan keagamaan yang berjarak ± 500 m ke arah timur dari Masjid Agung Sunan Ampel tepatnya di Jl. Sencaki 64 Surabaya yang kemudian dikenal dengan nama Yayasan Pondok Pesantren Nurul Huda dan telah eksis sampai sekarang selama ± 20 tahun, berawal dari berdirinya Mushalla (langgar wakaf) Nurul Huda yang dibangun secara swadaya masyarakat pada tahun ± 1955. 
Perjuangan panjang tersebut tidak terlepas dari seorang sosok tenang penuh wibawa yang menjadi panutan masyarakat sekitarnya yaitu K. H. Ridlwan Baidlowi yang sebelum wafat, beliau adalah seorang imam rawatib di Mushalla Nurul Huda Dari beberapa sumber yang berasal dari tokoh-tokoh masyarakat sekitar seperti penuturan ketua takmir mushalla Nurul Huda Bapak H. Huzaini yang populer dipanggil H. Kasim ia menjelaskan bahwa daerah asal K. H. Ridlwan Baidlowi adalah dari Tanggulangin Sidoarjo Jawa Timur. Ada satu hal yang tidak dapat dilupakan dari jasa-jasa beliau adalah tekad dakwahnya yang sangat kokoh guna menyebarkan nilai Ukhuwah Islamiyah dan indahnya Islam pada masyarakat Sencaki dan sekitarnya, yang pada saat itu daerah tersebut dikenal sebagai basis hitam tempat bersarangnya pencuri, pencopet, penyabung ayam dan identitas-identitas lain yang negatif dan arogan walaupun diantara mereka juga masih banyak orang-orang yang taat beribadah dan berakhlak mulia. Beliau dikenal keras dan tegas terhadap segala hal yang bersifat prinsip terhadap nilai-nilai religi dan sangat dikenal luwes dan familiar dalam hubungan sosial kemasyarakatan. Selama puluhan tahun hingga wafatnya  beliau pada tahun 1971, beliau telah banyak mengabdikan dirinya untuk kemaslahatan dan kabaikan ummat padahal secara garis nasabnya beliau tidak ada hubungan apapun baik anak maupun persaudaraan dengan tokoh-tokoh masyarakat sekitar. Akan tetapi, setelah beliau wafat yang terhitung sampai tahun 1993 tak satupun orang yang siap mengganti posisinya sebagai singel fathers and top leaders (seorang bapak dan panutan), yang pada akhirnya beberapa tokoh masyarakat sekitar mushalla, bermusyawarah untuk mengaktifkan dan melanjutkan kembali perjuangan K. H. Ridlwan Baidhowi tersebut yang kemudian mendatangi seseorang yang menjadi warga pendatang di lokasi terebut, alumni dari Jami’atul Imam Muhammad ibn Saud Riyadh – Saudi Arabiah yaitu K. H. Abdurrahman Navis, Lc, yang kemudian diberikan amanah untuk menjadi Pengasuh sekaligus Ketua Yayasan Pondok Pesantren Nurul Huda Surabaya hinggasekarang. Setelah beliau memegang amanah yang sangat berat ini, beliau mulai merintis dan mengembangkan langgar wakaf ini yang diawalidengan pemugaran dan renovasi total sebuah bangunan yang asalnya adalah tempat tinggal imam rawatib saat itu menjadi bangunan permanen Yayasan Pondok Pesantren Putra berlantai dua. Sebagai upaya untuk menyukseskan rencana besarnya itu, beliau memantapkan barisan bersama Ust. Drs. H. Abdul Hajji Mukhtar yang kemudian menjadi Sekretaris Yayasan Pondok Pesantren dan Bapak Ali Mustaqim menjadi Wakil Sekretaris serta Ust. H. Hamidin Lumaris Al-Hafidz sebagai Bendahara Yayasan Pondok Pesantren. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Prestasi Emas Pencak Silat: SMP YPP Nurul Huda Berjaya di Kejuaraan KONI Kota Surabaya 2025

Prestasi Gemilang di Kejuaraan Pencak Silat KONI Surabaya 2025 Prestasi membanggakan kembali diraih oleh siswa-siswi SMP YPP Nurul Huda Sura...